Rokok Elektronik Tidak Lebih Aman dari Rokok Konvensional dan Bisa Menyebabkan Penyakit Berbahaya

  • Share

NGONOO.com – Hae sobat NGONOO yang budiman, kali ini saya akan membahas mengenai sesuatu yang sudah tidak asing lagi buat kalian semua. Yap, rokok. Kamu tau gak gais, ternyata rokok udah ada sejak jaman dahulu kala loh. Menurut sejarah, manusia pertama yang merokok adalah suku bangsa Indian yang berasal dari Amerika. Dulu, rokok tidak dipakai untuk gaya-gayaan seperti sekarang ini gais, tetapi dipakai untuk keperluan ritual pemujaan dewa atau roh.

Nah, seiring dengan berjalannya waktu, saat ini rokok bisa dibilang sudah menjadi bagian dari gaya hidup gais. Coba aja lihat di sekeliling kamu, pasti ada aja yang merokok, kan? Padahal nih gais, rokok tuh banyak merugikannya loh daripada menguntungkannya. Tapi ya udah deh, merokok tuh hak setiap orang kok, ya gak?

Rokok sendiri mengalami sebuah inovasi gais, dari rokok konvensional biasa menjadi rokok elektronik atau istilah kerennya adalah e-Cigarette (Elecronic Nicotine Delivery Systems). Rokok elektronik ini muncul karena rokok konvensional dianggap sudah terlalu berbahaya bagi manusia.

Rokok via Shutterstock
Rokok via Shutterstock

Menurut catatan dari Wikipedia, rokok elektronik pertama kali dikembangkan pada tahun 2003 lalu oleh perusahaan asal Tiongkok, SBT Co Ltd. Namun, sekarang SBT Co Ltd sudah dikuasai oleh Golden Dragon Group Ltd.

Berbicara mengenai rokok elektronik, rokok jenis ini dianggap sebagai rokok yang lebih aman, baik bagi penggunanya maupun bagi lingkungan. Rokok elektronik juga diklaim bebas nikotin, bahkan di kemasannya terdapat label “Health” yang menandakan bahwa rokok elektronik aman untuk dikonsumsi.

Menghisap Rokok Elektronik via Shutterstock
Menghisap Rokok Elektronik via Shutterstock

Tapi, apakah rokok elektronik benar-benar aman? Jangan ambil kesimpulan terlalu cepat dulu gais. Meskipun banyak yang beranggapan jika rokok elektronik merupakan rokok yang aman, namun nyatanya peredaran rokok ini sudah dilarang di sejumlah negara, termasuk di Tiongkok yang notabene merupakan negara penemu rokok elektronik.

Hmm, kenapa rokok elektronik dilarang ya? Padahal kan pada rokok elektronik tidak terkandung nikotin. Siapa bilang gak terdapat nikotin gais? Itu kan hanya anggapan dari segelintir pihak saja. Pada kenyataannya rokok elektronik mengandung nikotin cair dengan bahan pelarut propilen glikol, dieter glikol, ataupun gliserin. Kalau nikotin dan bahan pelarut tersebut dipanaskan, maka akan menghasilkan nitrosamine yang bisa menyebabkan penyakit kanker. Ngeri kan gais?

Gak cuma itu aja, berdasarkan laporan dari jurnal Environmental Health Perspectives, rokok elektronik ternyata dapat menyebabkan sebuah penyakit bernama ‘popcorn lung‘ atau paru-paru popcorn bagi para penggunanya. Hal itu dikarenakan adanya bahan kimia berbahaya, yakni diacetyl, pada 75% cairan yang dipakai untuk memberikan cita rasa dari asap yang dihasilkan oleh rokok elektronik. Kalau asap rokok elektonik dihisap secara terus-terusan dalam jangka waktu yang lama, maka pengguna rokok elektronik bisa terkena penyakit paru-paru popcorn gais.

Diacetyl sendiri merupakan bahan sintetis pengganti mentega yang berfungsi untuk menghadirkan rasa kembang gula atau cupcake. Bahan tersebut dianggap sebagai penyebab penyakit pernafasan bronkitis obliteran. Asal kamu tau aja gais, diacetyl memang aman saat dimakan, akan tetapi, United States National Institute for Occupational Safety and Health menyatakan bahwa, diacetyl akan sangat berbahaya apabila secara terus-menerus dihirup dalam jangka waktu yang lama. Bahkan, ada banyak laporan keluhan gejala sakit pernafasan di kalangan pekerja pabrik pembuatan popcorn, dan diyakini bahwa bahan diacetyl-lah penyebab dari penyakit tersebut.

Diacetyl dikenal sebagai bahan yang mampu mengakibatkan radang, lecet, dan penyempitan pada bronkiolus. Dampaknya? Tentu saja aliran keluar/masuk udara di paru-paru menjadi tidak lancar. Mengerikannya lagi, sampai saat ini belum ditemukan pengobatan yang mampu menangani penyakit tersebut secara efektif. Satu-satunya jalan agar penderita bisa kembali sembuh adalah dengan transplantasi paru-paru.

Memang masih menjadi perdebatan apakah rokok elektronik aman dikonsumsi apa tidak. Tetapi, badan organisasi kesehatan dunia atau WHO sudah melarang penyebaran rokok elektronik, karena rokok modern ini dianggap tidak lebih aman dari rokok konvensional.

via Telegraph.co.uk

Gambar : Rokok Konvensional dan Rokok Elektronik via Shutterstock

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.