Inovasi Pengobatan DSA Dokter Terawan, Hingga Berujung Pemecatan Anggota IDI

  • Share
Inovasi Pengobatan DSA Dokter Terawan
Inovasi Pengobatan DSA Dokter Terawan

Dokter Terawan merupakan salah satu dokter spesialis radiologi dan juga berstatus sebagai seorang Guru Besar di bidang tersebut. Dia merupakan alumni dari Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta yang kemudian masuk TNI AD. Terawan pernah bertugas di Lombok, Bali, dan Jakarta untuk mengemban tugas sebagai pelaksana medis atau kesehatan militer.

Terawan kerap dikenal sebagai salah satu Dokter yang kerap melakukan inovasi dalam ilmu kedokteran. Salah satu inovasinya adalah teknik terapi pengobatan Digital Substraction Angiography (DSA) yang dijalankan Terawan untuk mengobati stroke. Namun hal ini dianggap merupakan sebuah kontroversi.

Sebelumnya Terawan juga sempat menjadi Menteri Kesehatan (Menkes) pada Kabinet Indonesia Maju di bawah pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin pada 23 Oktober 2019 hingga reshuffle kabinet pada 23 Desember 2020 lalu.

Namun sebelum itu, Terawan juga pernah menjabat sebagai Kepala Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto sejak 2015. Di sini, Terawan memiliki banyak pasien “cuci otak” dengan metode pengobatan DSA. Terapi cuci otak atau brain wash yang digagas Terawan sempat menggemparkan masyarakat pada tahun 2018 lalu.

Terapi Cuci Otak

Mengutip dari kalcare, Motode cuci otak atau brainwash secara harafiah merupakan modifikasi dokter Terawan dari metode DSA (Digital Subtraction Angiography). DSA sendiri merupakan metode pemeriksaan kesehatan yang menggunakan teknik fluoroscopy yang bertujuan memberi gambaran dari dalam pembuluh darah yang erat kaitannya dengan penyakit stroke.

Caranya adalah dengan memasukkan kateter melalui pembuluh darah dan nanti akan dilakukan penyemprotan media kontras. Setelah itu, mesin x-ray akan menangkap gambaran di dalam pembuluh darah. DSA mampu memberikan gambaran pembuluh darah tubuh bagian manapun, termasuk pada jantung dan otak.

Kesimpulannya bahwa DSA merupakan tindakan untuk mencari kebenaran dari diagnosis penyakit pada pembuluh darah. Melewati batas untuk mendapat gambaran pada pembuluh darah, dokter Terawan juga ingin memberikan terapi kelainan pembuluh darah pada otak. Untuk itu, dokter Terawan melakukan metode DSA ditambah dengan menyemprotkan heparin ke dalam pembuluh darah.

Perlu Anda tahu, heparin merupakan obat antikoagulan atau mengencerkan darah. Maka setelah memasukkan kateter ke pembuluh darah melalui pangkal paha yang menuju ke otak, pasien juga akan disemprotkan heparin oleh dokter. Awalnya tindakan ganda ini merupakan hasil dari uji ilmiah untuk meneliti efek memasukan heparin pada pasien stroke iskemik kronis. Penelitian ini ini dituliskan dokter Terawan sebagai disertasi program doktoral pada Universitas Hasanuddin, Makassar.

Memasukan heparin ke dalam pembuluh darah bertujuan untuk mencegah dan mengurangi risiko penggumpalan darah. Setelah itu pembuluh darah pada otak akan diberikan alat tambahan untuk menunjang proses brainwash. Tindakan cuci otak ini dapat selesai dalam waktu 30-40 menit jika tidak terjadi komplikasi. Menurut dokter Terawan, metode ini dapat meningkatkan aliran darah dalam otak sebesar 20% dalam jangka waktu 73 hari.

Berujung Pemecatan IDI

Memiliki nama lengkap dr Terawan Agus Putranto resmi dipecat sebagai keanggotaan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) berdasarkan keputusan Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK). Terawan dan IDI memiliki hubungan panas dingin sejak munculnya terapi ‘cuci otak‘.

Terawan dipecat dalam Muktamar Ke-31 IDI yang digelar di Aceh. Dengan begitu, dokter Terawan pun tidak diizinkan melakukan praktik kedokteran. Hal itu dikonfirmasi Ketua Panitia Muktamar Ke-31 IDI dr Nasrul Musadir Alsa, Sabtu (26/3).

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.